DKI-1 !!! Ahok sebaiknya tidak perlu buang energi ciptakan musuh, santunlah berkomunikasi dan miliki fleksibilitas politik

IMG20160315164746-1

BENDERAnews, 16/3/16 (JAKARTA) – Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan Aksi Kebangsaan, Viktus Murin mengingatkan Ahok, agar tidak perlu membuang-buang energi yang memicu kegaduhan, bahkan berpotensi menciptakan musuh-musuh baru, tetapi seyogianya tampil lebih matang lagi, santun berkomunikasi dan memiliki fleksibilitas politik, mengikuti pola aksi ‘Sang Kepala Gerakan’ sebagaimana disebut-sebutnya sebagai idola utamanya.

Viktus yang juga mantan Sekjen Presidium Pusat Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan kini juga Tim Satkersus Generasi Penerus Pejuang Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP) serta Tenaga Ahli (TA) DPR RI ini mengungkapkan itu, ketika tampil sebagai salah satu pembicara pada ‘focus group discussion’ (FGD) bertajuk: “Ahok, Fenomena Menelusur Jalan Demokrasi di Ibukota Negeri’, Selasa (15/3/16) tadi malam di Ruang Studi DPP GPPMP, kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

“Saya cuma bisa memberi saran ke Bapak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang kini masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, dan kelihatan sangat suka serta siap untuk maju kembali memperebutkan kursi DKI-1 melalui Pilkada Gubernur (Pilgub) pada 2017 mendatang. Intinya, jika bersikap, janganlah cenderung menimbulkan resistensi, karena Jakarta ini harus diurus ‘rembugan’, tak ada yang bisa ‘one man show’ atau ‘superman’ di sini,” tandas Viktus dalam diskusi yang dipandu Hanny Senewe (Sekretaris Dewan Pakar GMNI dan juga salah satu Ketua DPP GPPMP) tersebut.

Viktus sendiri tampil dengan sub-topik “Ahok dan Pengkerdilan Parpol”, sementera dua pembicara lainnya juga mengangkat serta menyorot sisi lainnya. Yakni, politikus kawakan dan kini peneliti nuklir, Markus Wauran menyajikan “Lima Fenomene Ahok yang tidak Dimiliki Gubernur lain”. Sedangkan mantan aktivis 98, Jackson Kumaat (kini juga Ketua DPD KNPI Sulut, Ketua PSSI Sulut dan Wakil Ketua Kadin Sulut) memilih sub-topik “Arus Besar versus Arus Kecil dan Kecenderungan Meningkatnya Ketangguhan Ahok”.

Viktus lanjut menyebutkan, Ahok sudah banyak melakukan langkah terobosan dalam memimpin ibukota. “Saya akui itu dan banyak warga merasakannya. Namun, dengan pengalaman yang cukup lama sebagai bupati di satu daerah, lalu anggota legislatif, lalu wakil gubernur di era kepemimpinan Bapak Joko Widodo alias Jokowi, kemudian kini gubernur, semestinya kematangan sebagai pemimpin paripurna itu semakin kentara. Kedepankanlah pola yang lebih humanis, tidak perlu picu kegaduhan apalagi permusuhan,” paparnya dalam FGD yang dihelat Institut Studi Nusantara (ISN), bekerjasama dengan komunitas Ajang Dialog Revolusi (ADR) didukung DPP GPPMP.

Pengulangan sejarah

Mengenai keberanian Ahok memilih jalur independen, menurut Viktus, ini merupakan langkah normal, jika melihat perilaku elite politik itu sendiri.

“Ada yang mengembangkan isu ‘deparpolisasi’ sebagai suatu reaksi yang saya nilai berlebihan ketika melihat fakta, Ahok pilih jalur indenpenden. Saya rasa ini salah kaprah dan istilahnya juga benar-benar menabrak kaidah berbahasa Indonesia yang baik. Yang pasti memang da degradasi partai politik (Parpol). Tapi ini juga bukan hal baru. Ini pengulangan sejarah. Yah, ada kecenderungan sejarah yang berulang,” ujarnya.

Viktus lalu menunjuk posisi Bung Karno di dekade 1950-an di era sistem politik parlementer, dengan berakibat banyaknya elite melupakan garis lurus menuju tujuan perjuangan kemerdekaan nasional, nikmat dengan kegaduhan, konflik serta baku jatuh pemerintahan. “Bung Karno, seperti juga Ahok kini ‘vis a vis’ versus Parpol. Makanya dulu Bung Karno sempat mengeluarkan pernyataan cukup keras yang sesungguhnya merupakan bagian dari teguran bernuansa koreksi keras kepada pimpinan Parpol, yakni “Mari kita bubarkan partai-partai politik”, yang kemudian berjujung pada pembubaran Badan Konstituante (Parlemen) sekaligus lahirlah Dekrit Presiden kembali ke Undang Undang Dasar 1945″.

“Sejak itu pula Bung Karno secara tegas menghendaki lahirnya golongan fungsional yang kemudian berubah jadi Golongan Karya, karena istilah ‘fungsional’ disebutnya terlalu kebarat-baratan, dan dengan demikian Bung Karno pula sebetulnya yang membidani partai yang sempat merajai perplitikan di negeri ini. Kenapa begitu, karena menurut Bung Karno, para politikus keenakan bermain politik dan tidak lagi pada rel menuju cita-cita proklamasi, dan kita butuh orang-orang yang gila kerja, suka berkarya,” tandasnya lagi.

Keinginan pasar

Nah, bagi Viktus, kecenderungan pengulangan sejarah dengan munculnya kejenuhan orang-orang, termasuk Ahok terhadap perilaku para politikus, berulang lagi. “Kenapa begitu, kita simak saja apa yang pernah dinyatakan Buya Maarif (Prof Syafii Maarif, mantan Ketua Umum PP Muhamadiyah, Red), bahwa “ada kecenderungan elite jadikan Parpol alat mata pencaharian”.

Hal ini, demikian Viktus, mirip dengan amsal dari Khalil Gibran, seorang pujangga Turki yang berkata: “Orang yang mendatangkan berncana bagi bangsanya, ialah orang yang tidak menabur benih, tidak menyusun bata, tidak menenun kain, tetapi menjadikan politik sebagai mata pencaharian”.

“Itu kini semakin nyata khan? Dan sikap Ahok bertemu dengan ‘keinginan pasar’. “Tengok saja ‘grassrooth’ yang marah terhadap kerasukan elite partai mengekspresikan diri sebagai pendukung Ahok. Tak perduli apa latar sosialnya, dia warga Jakarta ingin Ahok yang bisa tampil tanpa takut menghadapi keganasan Parpol serta elitenya di DPRD,” tuturnya.

Namun dia mengingatkan, agar kita semua berhati-hati untuk menyikapi kondisi politik yang kian gaduh sekarang. “Di media sosial (Medsos), terutama, seolah cuma ada dua kelompok, yakni Kelompok Pembenci dan satu lagi Kelompok Pro. Janganlah kita terpolarisasi ke situ, kita pengaruhi, kita garami, agar rakyat tidak terbelah-belah pada kubu-kubu yang mengeras dan menjurus fanatik sempit. Dan karenanya, kaum nasionalis pro merah putih termasuk para personel GPPMP mesti tampil, lakukan aksi untuk cegah perpecahan, hambat perseteruan di lingkup elite yang tidak meneladani, juga ajarkan gaya berkomunikasi yang lebih memiliki ciri keindonesiaan, bisa bedakan mana yang keras, mana yang kasar dan seterusnya”.

Viktus juga menilai, kita perlu lebih banyak lagi mengangkat dan mendukung pemimpin-pemimpin berkarakter, punya integritas dan berani, termasuk yang seperti Ahok. Dengan catatan harus semakin matang dalam berperilaku menghadapi keberagaman masyarakat, karena Jakarta dan Indonesia ini memang harus diurus secara ‘berembug, urun rembug, gotong royong.

“Ini penting, agar jangan sampai perilaku pemimpin justru jadi pemicu untuk timbulnya kegaduhan demi kegaduhan yang berimbas pada tidak mulusnya berjalan program-program pro rakyat, seperti mengatasi kemacetan, banjir, dan lain-lain yang membuat Jakarta sangat tidak nyaman lagi sebagai tempat tinggal, baik bagi warganya, juga bagi tetamu,” ungkapnya.

Salah satu yang disebut Viktus pantas tampil dalam pentasi memperebutkan kursi DKI-1, ialah Adhyaksa Dault, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, kini Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Pramuka.

“Ini juga sosok nasionalis tulen yang mampu tampil keras, tetapi determinasinya terukur. Dia bisa menjadi kontestan dalam suatu Pilgub demokratis di Jakarta bersama Ahok, yang nantinya bakal membuat warga ibukota memiliki calon-calon pemimpin hebat, pantas, dan tidak lagi terus memunculkan kegaduhan seperti di era 1950-an, atau semakin mempersempit ruang gerak para politikus kaliber yang menjadikan partai sebagai alat mata pencaharian,” demikian Viktus Murin yang menutup pemaparannya dengan menyatakan: “mari kita semua memberi warna indah bagi pesta demokrasi ini, menjalankan tugas ideologis dan kerasulan, jangan buang-buang energi positif di tengah kegaduhan yang barangkali merupakan bagian dari ‘grand design’ mengkotak-kotakkan rakyat Indonesia”.

Pasca-tampilnya tiga pembicara ini, marak pula opini dari sejumlah peserta yang pada intinya bermuara pada kehendak untuk menjadikan Pilgub DKI Jakarta 2017, sebagai cerminan pesta demokrasi bermartabat, penuh kedamaian serta memberi manfaat kesejahteraan. Di antara mereka yang berbicara, ada Donny Lumingas (Sekjen DPP GPPMP yang juga mantan Sekjen Presidium Pusat GMNI), Kamang Toreh (Ketua BPC Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia/GMKI Manado), Herling Tumbel (salah satu Ketua DPP GPPMP dan pimpinan sebuah rumah produksi), Stephen Lumingkewas (Ketua Ikatan Pemulung Indonesia DKI Jakarta), Stella Mamahit dan Kusoy (pimpinan DPD GPPMP DKI Jakarta), Teddy Matheos (aktivis KKK), Irwan Lalegit (penggiat PMI dan Alumni Pers Mahasiswa), Dr Donald Pokatong (Direktur Program ISN dan ADR), juga Bobby Worotitjan (praktisi hukum dan aktivis Pemuda Katolik serta pimpinan Pusat Bantuan Hukum/PBH “Merah Putih”) bersama rekan-rekannya seperti Vera Sanger, Elsye Mamahit, juga Chacha Anastya. (Tim BENDERAnews)

SUMBER : http://www.benderanews.com/20160316/dki-1-ahok-sebaiknya-tidak-perlu-buang-energi-ciptakan-musuh-santunlah-berkomunikasi-dan